uin

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Perlu diketahui bersama, sisi gelap dalam pola pendidikan yang dirumuskan oleh Amerika dan Eropa yaitu minimnya muatan nilai ruhiyah dan lebih mengedepankan logika materialisme serta memisahkan antara agama dengan kehidupan yang dalam hal ini sering disebut paham Sekulerisme. Implikasi yang bisa dirasakan namun jarang disadari adalah adanya degradasi moral yang dialami oleh anak bangsa. Banyak kasus buruk dunia pendidikan, politik, ekonomi ataupun yang lain yang mencuat dipermukaan dimuat oleh beberapa media massa cukup meresahkan semua pihak yang peduli terhadap masa depan pendidikan bangsa yang lebih baik.

Periode klasik merupakan masa gemilang (the golden age) bagi umat islam. Pada masa tersebut umat islam berhasil dalam berbagai aspek kehidupan. Agama islam memberikan motivasi yang sangat jelas agar pemeluknya berkarya untuk mencapai kemajuan dan kejayaan.

Dalam masa ini menurut catatan sejarah ketika Islam baru lahir di kota Makkah keadaan masyarakat Arab masih banyak sekali yang buta huruf, sering kali terjadi pembunuhan anak perempuan karena faktor ekonomi dan tidak adanya peraturan kekuasaan politik yang adil dan jelas. Melihat kondisi masyarakat Arab tersebut islam memberikan dorongan yang sangat urgen untuk mengadakan reformasi dalam segala bidang.

Reformasi yang dimaksudkan adalah perubahan sistem Jahiliyah kepada masyarakat Islam yang beradab. Masyarakat Arab mempunyai peradaban dan kebudayaan yang sangat tinggi setelah mereka mengambil Islam sebagai way of life dalam sistem kehidupan mereka. Dengan demikian mereka memperoleh kejayaan dan kemajuan dalam seluruh aspek kehidupan mereka.

Proses terjadinya reformasi yang menyebabkan kemajuan tersebut tidak pernah lepas dari usaha keras dan kuat, pantang menyerah dan selalu berorientasi ke depan. Salah satu usaha tersebut adalah berlangsungnya proses pendidikan yang sangat baik yang pernah dilakukan dan ditanamkan oleh Nabi Muhammad SAW pada waktu itu.

Maka dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal terkait dengan islam pada masa Nabi Muhammad SAW baik itu pada periode Makkah maupun pada periode Madinah dalam segi da’wah, pembentukan sistem sosial, kemasyarakatan, politik, militer, ekonomi dan sumber keuangan negara.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud periode islam klasik?

2. Bagaimana penjelasan periode islam klasik fase makkah dari segi da’wah dan pendidikan?

3. Bagaimana penjelasan periode islam klasik fase madinah dari 5 Segi (Pembentukan Sistem Sosial dan Kemasyarakatan, Politik, Militer, Da’wah dan Pendidikan, Ekonomi dan Sumber Keuangan Negara)?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian periode islam klasik.

2. Mengetahui penjelasan periode islam klasik fase makkah dari segi da’wah dan pendidikan.

3. Mengetahui penjelasan periode islam klasik fase madinah dari 5 Segi (Pembentukan Sistem Sosial dan Kemasyarakatan, Politik, Militer, Da’wah dan Pendidikan, Ekonomi dan Sumber Keuangan Negara).

Bab 2

Pembahasan

2.1 Pengertian Periode Islam Klasik

Setelah wafatnya Nabi Isa AS, kepemimpinan dunia mengalami kekosongan. Manusia makin banyak yang menyimpang dari ajaran yang telah dianut. Mereka memasukkan ajaran-ajaran yang ada serta mengubah isi kitab sucinya.

Dalam kegelapan dan kegersangan ini, Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai utusan (Rasul) dengan membawa ajaran Islam. Kenabian merupakan desain Tuhan yang tidak bisa diberikan karena usaha manusia. Allah SWT lebih tahu dimana dan kepada siapa kenabian diberikan. Nabi Muhammad SAW adalah pilihan Allah SWT yang disiapkan untuk membawa risalah kenabian ke seluruh dunia untuk seluruh umat manusia melintas batas etnis, bangsa bahkan dunia. Nabi Muhammad SAW mendapat perintah Allah SWT untuk menyampaikan amanat tersebut menurut kemampuan akal, pengetahuan dan kecerdasannya. Karena kebijaksanaan dan kegigihannya dalam memperjuangkan Agama Islam akhirnya beliau berhasil merombak adat jahiliah yang rusak dalam waktu yang relatif singkat yaitu selama 23 tahun.

Nabi Muhammad SAW lahir dari kalangan kaum Quraisy terkemuka. Beliau menyiarkan Agama Islam pertama kalinya di Makkah selama kurun waktu sebelas tahun. Kemudian beliau hijrah bersama kaum Muslim ke Madinah. Di Madinah beliau mendapat sambutan baik sehingga disamping menjadi agamawan (rasul) beliau juga menjadi tokoh masyarakat yang dapat meletakkan dasar-dasar kemasyarakatan dalam mecapai terbentuknya masyarakat tamaddun.

Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW saat itu adlah masa islam periode klasik dan dapat dikatakan bahwa pada saat itu merupakan puncak peradaban islam disepanjang sejarahnya. Dan bahkan apabila anda seorang muslim, anda dapat menganggapnya sebagai peradaban tertinggi yang pernah ada di dunia ini.

2.2 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Makkah dari Segi Da’wah dan Pendidikan

Nabi Muhammad SAW adalah orang yang teguh mempertahankan tradisi Nabi Ibrahim, tabah dalam mencari kebenaran hakki, menjatuhkan diri dari keramaian dan sikap hedonisme dengan berkontemplasi (ber-tahannus) di Gua Hira.

Pada tanggal 17 Ramandhan turunlah wahyu Allah yang pertama, surat al-Alag Ayat 1-5 sebagai fase pendidikan Islam Makkah.

Pendidikan Islam terjadi sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul Allah di Makkah dan beliau sendiri sebagai gurunya. Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama di Gua Hira di Makkah pada tahun 610 M. dalam wahyu itu tertulis ayat al-qur’an yang artinya:

“Bacalah (ya Muhammad) dengan nama tuhanmu yang telah menjadikan (semesta alam). Dia menjadikan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan tuhanmu maha pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya.”

Pendidikan Islam mulai dilaksanakan Nabi Muhammad SAW setelah mendapat perintah dari Allah agar beliau menyeru kepada Allah, sebagaimana yang tertulis dalam A-Qur’an surat Al-Mudatstsir ayat 1–7 :

“ Hai orang yang berkemul (berselimut). Bangunlah, lalu berilah peringatan!. Dan Tuhanmu agungkanlah!. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.”

Dalam surat Al-Mudatstsir ini bahwa ” bangun (menyeru)” berarti mengajak dan mengajak berarti mendidik. Adapun materi pendidikan tersebut diturunkan secara berangsur-angsur, sedikit demi sedikit.

Setelah banyak orang memeluk Islam, lalu Nabi Muhammad SAW menyediakan rumah Al- Arqam bin Abil Arqam untuk tempat pertemuan sahabat-sahabat dan pengikut-pengikutnya. Di tempat itulah pendidikan Islam pertama dalam sejarah pendidikan Islam. Disanalah Nabi Muhammad SAW mengajarkan dasar-dasar atau pokok-pokok agama Islam kepada sahabat-sahabatnya dan membacakan wahyu-wahyu (ayat-ayat) alqur’an kepada para pengikutnya serta Nabi Muhammad SAW menerima tamu dan orang-orang yang hendak memeluk agama Islam atau menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Bahkan disanalah Nabi beribadah (sholat) bersama sahabat-sahabatnya.

Dalam masa pembinaan pendidikan agama Islam di Makkah Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan al Qur’an karena al-Qur’an merupakan inti sari dan sumber pokok ajaran Islam. Disamping itu Nabi Muhammad SAW mengajarkan tauhid kepada umatnya. Intinya pendidikan dan pengajaran yang diberikan Nabi Muhammad SAW selama di Makkah ialah pendidikan keagamaan dan akhlak serta menganjurkan kepada manusia, supaya mempergunakan akal pikirannya memperhatikan kejadian manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan alam semesta seagai anjuran pendidikan ‘aqliyah dan ilmiyah.

Pembinaan pendidikan Islam pada masa Makkah meliputi:

a) Pendidikan Keagamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata jangan dipersekutukan dengan nama selain-Nya.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Siapa yang meninggal dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia masuk neraka. Dan aku (Abdullah) sendiri berkata: Siapa yang meninggal dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apa pun, niscaya ia masuk surga.” (Shahih Muslim No.134)

b) Pendidikan Aqliyah dan Ilmiah, Yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Wahai Aba Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari Kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rakaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik daripada shalat seribu raka’at.” (HR. Ibnu Majah).

Seperti yang diketahui banyak orang bahwa peradaban islam itu mencapai puncaknya saat orang-orang muslimin memegang teguh agamanya dan mempelajari kitab sucinya, karena sesungguhnya semua ilmu yang ada didunia ini telah tercantum didalamnya.

c) Pendidikan akhlak dan budi pekerti, yaitu Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid.

Banyak diantaranya perilaku kaum jahiliyah yang rusak diantaranya mulai dari berzina, membunuh, memukul kaum muslimin sampai yang perilaku-perilaku sehari-hari diantaranya menghina saudaranya, suka mencuri berita (suka mendengar-dengar berita rahasia orang lain), buruk sangka, emosi (marah) dan lain-lain.

d) Pendidikan jasmani atau kesehatan, yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman.

Nabi Bersabda : “Sesungguhnya Allah baik dan menyukai kebaikan, bersih dan menyukai kebersihan, murah hati dan senang kepada kemurahan hati, dermawan dan senang kepada kedermawanan. Karena itu bersihkanlah halaman rumahmu dan jangan meniru-niru orang-orang Yahudi.” (HR. Tirmidzi)

Disini dijelaskan bahwa orang-orang Yahudi suka menumpuk sampah di halaman rumah.

Pendidikan atau Da’wah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW lebih ditekankan kepada konsep penanaman ideologi merubah cara berpikir seseorang atau suatu golongan, agar kumpulan konsep bersistem yg dijadikan asas pendapat (kejadian) yg memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup itu berubah sesuai dengan kaidah-kaidah yang benar dalam islam yang beliau bawa.

Secara lebih sederhana, Pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW di Makkah merupakan prototype yang bertujuan untuk membina pribadi Muslim agar menjadi kader yang berjiwa kuat dan dipersiapkan menjadi masyarakat Islam, mubaligh dan pendidik yang baik. Pada periode ini dilakukan dengan 3 tahapan. Yaitu: 1). Secara rahasia dan perorangan; 2). Secara terang-terangan, dan 3). Pendidikan Islam untuk umum. Adapun materi yang disampaikan adalah tentang ketuhanan (tauhid) dan juga tentang Al Qur’an dan segala kandungannya.

2.3 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Madinah dari 5 Segi (Pembentukan Sistem Sosial dan Kemasyarakatan, Politik, Militer, Da’wah dan Pendidikan, Ekonomi dan Sumber Keuangan Negara)

2.3.1 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Madinah dari Segi Pembentukan Sistem Sosial dan Kemasyarakatan

Saat setelah hijrah ke Madinah. Langkah pertama yang dilakukan Nabi Muhammad SAW adalah membangun masjid. Beliau terjun langsung dalam pembangunan masjid itu, memindahkan bata dan bebatuan, seraya berkata : “ Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”

Beliau juga membangun beberapa rumah disisi masjid, dindingnya dari susunan batu dan bata, atapnya dari daun korma yang disangga beberapa batang pohon. Itu adalah bilik-bilik untuk istri-istri beliau. Setelah semuanya selesai, maka beliau pindah dari rumah Abu Ayyub kerumah itu.

Masjid itu bukan hanya merupakan tempat sholat semata, tapi juga merupakan sekolahan bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran islam dan bimbingan-bimbingannya, sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah.

Masjid tersebut juga berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang Muhajirin yang miskin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, tidak punya kerabat dan masih bujangan atau belum berkeluarga.

Disamping membangun masjid sebagai tempat untuk mempersatukan umat manusia, Nabi Muhammad SAW juga mengambil tindakan yang sangat monumental dalam sejarah, yaitu usaha mempersatukan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Seorang muslim ialah yang menyelamatkan kaum muslimin (lainnya) dari (kejahatan) lidah dan tangannya. Seorang mukmin ialah yang dipercaya oleh kaum beriman terhadap jiwa dan harta mereka, dan seorang muhajir ialah yang berhijrah meninggalkan dan menjauhi keburukan (kejahatan).” (HR. Ahmad).

Beliau mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar agar saling tolong menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meninggal dunia disamping kerabatnya. Maka persaudaraan ini, membuat fanatisme jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibela kecuali islam. Disamping itu agar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi, agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan merasa lebih rendah kecuali karena ketakwaan.

Nabi Muhammad SAW menjadikan persaudaraan ini sebagai suatu ikatan yang harus benar-benar dilaksanakan. Bukan sekedar isapan jempol dan omong kosong semata. Melainkan harus merupakan tindakan nyata yang mempertautkan darah dan harta. Saling mengasihi dan memberikan pertolongan dalam persaudaraaan ini.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Sebaik-baik kamu ialah yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, dan seburuk-buruk kamu ialah yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Tirmidzi dan Abu Ya’la) .

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Mencaci-maki seorang mukmin adalah suatu kejahatan, dan memeranginya adalah suatu kekufuran.” (HR. Muslim).

Nabi Muhammad SAW mempersaudarakan mereka dengan ketentuan ketentuan agama islam atas keridhaan Allah SWT. Dengan hikmah kepintarannya ini, rasulullah telah berhasil memancangkan sendi-sendi masyarakat yang baru. Beliau juga menganjurkan agar mereka menshadaqahkan hartanya, dan juga menganjurkan mereka agar menahan diri dan tidak suka meminta-minta, kecuali terpaksa, dan menyeru agar senantiasa sabar dan merasa puas.

Dan pada suatu hari saat ada seorang dari sahabat meminta kepada Nabi Muhammad SAW agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi dengan tegas beliau menjawab: “Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Bukanlah dari golongan kami orang yang tidak mengasihi dan menyayangi yang lebih muda, tidak menghormati orang yang lebih tua, dan tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini termasuk kebijaksanaan dalam berdakwah dan beramar ma’ruf nahi mungkar.

Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jangan kamu saling dengki dan iri dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya dengan tidak menzhaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi SAW menunjuk ke dada beliau sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan saudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya.” (HR. Muslim).

Begitulah cara beliau mengangkat moral dan spirit mereka, membekali mereka dengan nilai-nilai yang tinggi. Sehingga mereka tampil sebagai sosok yang ideal dan manusia yang sempurna. Dengan cara ini Nabi Muhammad SAW mampu membangun sebuah masyarakat yang baru di Madinah. Suatu masyarakat yang mulia lagi mengagumkan yang dikenal sejarah.

2.2.2 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Madinah dari Segi Politik

Banyak hal yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dalam rangka mempertahankan dan memperkuat kedudukan kota Madinah diantaranya adalah mengadakan perjanjian damai dengan berbagai kabilah di sekitar Madinah.

Nabi Muhammad SAW Bersabda : “Khianat paling besar adalah bila seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya.” (HR. Ath-Thabrani). Pembentukan sistem politik di madinah pada masa Nabi Muhammad SAW semua didasarkan dengan hukum-hukum islam. Seperti yang dikatakan Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda : “Pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka.” (HR. Abu Na’im). Segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dsb) mengenai pemerintahan negara di lakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan adil, rasa kepemimpinan yang tinggi, tidak menyalah gunakan jabatannya dengan berbuat yang zhalim dan menipu, tidak main suap dalam urusan hukum dan lain-lain.

Ketika pemeluk agama Islam di Madinah semakin bertambah maka persoalan demi persoalan semakin sering terjadi, diantaranya adalah rongrongan dari orang Yahudi, Munafik dan Quraisy. Namun berkat keteguhan dan kesatuan ummat Islam, mereka dapat mengatasinya.

Cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah (kebijaksanaan) dilakukan oleh nabi dengan tepat dan benar sehingga semua orang mematuhi dan taat. Nabi bersabda : “Hendaklah kamu mendengar, patuh dan taat (kepada pemimpinmu), dalam masa kesenangan (kemudahan dan kelapangan), dalam kesulitan dan kesempitan, dalam kegiatanmu dan di saat mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan sekalipun keadaan itu merugikan kepentinganmu.” (HR. Muslim dan An-Nasaa’i).

Mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan) dalam bidang peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah peraturan atau adat yang secara resmi dianggap mengikat, yang dikukuhkan oleh penguasa atau pemerintah (hukum) beliau melakukanya dengan benar dan adil sesuai dengan Al-Quran. Seperti berikut adalah sabda-sabda beliau :

“Rasulullah SAW memotong tangan pencuri dalam (pencurian) sebanyak seperempat dinar ke atas.” (Shahih Muslim No.3189).

“Sesungguhnya hukum rajam dalam kitab Allah itu adalah hak atas orang berzina yang muhshan (pernah menikah), dari kaum lelaki dan wanita, jika telah terbukti berupa kehamilan atau pengakuan.” (Shahih Muslim No.3201)

“Bahwa Nabi SAW. pernah didatangkan seorang lelaki yang telah meminum khamar, lalu beliau menderanya dengan dua tangkai pohon korma sebanyak empat puluh kali.” (Shahih Muslim No.3218)

Pada saat kafilah dagang kaum Musyrik Mekkah mengadakan perjalanan dagang dari Syam ke Mekkah. Hal ini diketahui orang-orang muslim. Ini merupakan kesempatan emas bagi pasukan Madinah untuk melancarkan pukulan yang telak terhadap orang-orang Musyrik. Pukulan dalam bidang politik, ekonomi dan militer.

Kafilah dagang itu sendiri membawa harta kekayaan penduduk Mekkah, yang jumlahnya sangat melimpah, yaitu sebanyak 1000 ekaor onta, yang membawa harta benda milik mereka, yang nilainya tidak kurang dari 5000 dinar emas. Sementara yang mengawalnya tidak lebih dari empat puluh orang.

Harta rampasan perang ini didapat pada saat terjadinya perang Badar yang tak terhindarkan lagi pada saat orang muslim Madinah hendak merampas harta kafilah dagang ini. Disini kita tak menyinggung bagaimana bisa terjadinya perang Badar, karena akan kita bahas pada topik yang lain.

Harta rampasan inilah modal kekayaan orang-orang muslim di Madinah. Harta rampasan ini dibagi-bagikan kepada penduduk Madinah. Dan pada saat ini pula turun ayat yang mewajibkan puasa dan membayar zakat. Sehingga orang-orang muslim yang miskin di Madinah dapat terbantu karena syari’ah yang ditetapkan Allah.

2.2.3 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Madinah dari Segi Militer

Dengan terbentuknya kota Madinah Islam bertambah kuat sehingga perkembangan yang pesat itu membuat orang Makkah risau, begitu juga dengan musuh–musuh Islam. Untuk menghadapi kemungkinan gangguan–gangguan dari musuh. Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara, mengadakan ekspedisi keluar kota sebagai aksi siaga melatih kemampuan calon pasukan yang memang mutlak diperlukan untuk melindungi dan mempertahankan negara yang baru dibentuk tersebut.

Dari Nafik, ia berkata : Nabi Muhammad SAW pernah menyerbu Bani Mushthaliq di saat mereka dalam keadaan terlena serta hewan-hewan ternak mereka sedang diminumkan dari sumber mata air. Lalu beliau membunuh pasukan perang mereka, menangkap tawanan mereka dan pada hari itulah Rasulullah mendapatkan Juwairiah binti Harits. Selanjutnya Nafik mengatakan: Abdullah bin Umar menceritakan hadis ini kepadaku karena termasuk anggota pasukan Islam pada saat itu. (Shahih Muslim No.3260).

Dalam segi militer banyak hal yang dilakukan nabi seperti pembentukan pasukan militer, pengaturan siasat perang, bertipu-muslihat dalam perang. aturan-aturan dalam berperang, harta rampasan perang, Hukum fai` (kekayaan musuh yang berhasil dirampas tanpa perang), tawanan perang dan Peperangan kaum wanita bersama kaum lelaki.

Rasulullah SAW. bersabda: Perang itu adalah tipu-muslihat. (Shahih Muslim No.3273)

2.2.4 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Madinah dari Segi Da’wah atau Pendidikan

Pada fase Madinah materi pendidikan yang diberikan cakupannya lebih kompleks dibandingkan dengan materi pendidikan fase Makkah. Upaya pendidikan yang dilakukan Nabi pertama-tama membangun lembaga masjid, melalui masjid Nabi Muhammad SAW memberikan pendidikan Islam :

a. Pendidikan ukhuwah (persaudaraan) antara kaum muslimin. Dalam melaksanakan pendidikan ini, Rasulullah bertitik tolak dari struktur kekeluargaan yang ada pada masa itu.

b. Pendidikan kesejahteraan sosial. Terjaminnya kesejahteraan sosial, tergantung pertama-tama pada terpenuhinya kebutuhan pokok dari pada kehidupan sehari hari. Untuk itu setia orang harus bekerja mencari nafkah, untuk mengatasi masalah pekerjaan tersebut, Rasulullah memerintahkan kepada kaum Muhajirin bekerjasama dengan kaum Ansor.

c. Pendidikan kesejahteraan kaum kerabat. Yang dimaksud dengan keluarga adalah suami, istri, dan anak-anaknya. Rasulullah berusaha untuk memperbaiki keadaan itu dengan memperkenalkan dan sekaligus menerapkan sistem kekeluargaan kekerabatan baru, yang berdasarkan takwa kepada Allah.

d. Pendidikan HANKAM (pertahanan dan Keamanan) dakwah Islam. Masyarakat kaum muslimin merupakan suatu state (negara) di bawah bimbingan Rasulullah yang mempunyai kedaulatan. Ini merupakan dasar bagi usaha dakwahnya untuk menyampaikan ajaran Islam kepada seluruh umat manusia secara bertahap.

Adapun metode yang diterapkan dan dikembangkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan materi yang ada adalah:

a. Dalam bidang keimanan : melalui tanya jawab dengan penghayatan yang mendalam dan di dukung oleh bukti-bukti yang rasional dan ilmiah.

b. Materi ibadah : disampaikan dengan metode demonstrasi dan peneladanan sehingga mudah didikuti masyarakat.

c. Bidang akhlak : Nabi menitikberatkan pada metode peneladanan. Nabi tampil dalam kehidupan sebagai orang yang memiliki kemuliaan dan keagungan baik dalam ucapan maupun perbuatan.

Metode yang digunakan Rasulullah dalam mendidik sahabatnya antara lain:

a. metode ceramah, menyampaikan wahyu yang baru diterimanya dan memberikan penjelasan-penjelasan serta keterangan-keterangannya.

b. dialog, misalnya dialg antara Rasulullah dengan Mu’az ibn Jabal ketika Mu’az akan diutus sebagai kadi ke negeri Yaman; (3) diskusi atau tanya jawab, sering sahabat bertanya kepada Rasulllah tentang suatu hukaum, kemudian rasul menjawab.

c. metode perumpamaan, misalnya orang mukmin itu laksana satu tubuh, bila sakit salah satu anggota tubuh maka anggota tubuh lainnya akan turut merasakannya.

d. metode kisah, misalnya kisah beliau dalam perjalanan isra’ dan miraj.

e. metode pembiasaan, membiasakan kaum muskimin shalat berjamaah.

f. metode hafalan, misalnya para sahabat dianjurkan untuk menjaga al-Qur’an dengan menghafalnya.

Nabi Muhammad SAW sebagai suri teladan dan rahmatan lil’alamin bagi orang yang mengharapkan rahmat dan kedatangan hari kiamat dan banyak menyebut Allah (al-ahzhab: 21) adalah pendidik pertama dan terutama dalam dunia pendidikan Islam.

Proses transformasi ilmu pengetahuan, internalisasi nilai-nilai spiritualisme dan bimbingan emosional yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dapat dikatakan sebagai mukjizat luar biasa, yang manusia apa dan di mana pun tidak dapat melakukan hal yang sama.

Dalam melaksanakan fungsi utamanya sebagai pendidik, Nabi Muhammad SAW telah melakukan serangkaian kebijakan yang amat strategis serta sesuai dengan situasi dan kondisi yang melingkupi pada saat itu

Setelah masyarakat Islam terbentuk di Madinah, barulah pendidikan Islam dapat berjalan dengan leluasa dan terbuka secara umum.

Adapun kebijakan yang telah dilakukan Nabi Muhammad ketika di Madinah adalah:

a. Membangun masjid di Madinah. Masjid inilah yang selanjutnya digunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan dakwah. Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan beberapa sahabat seperti al Hakam Ibn Sa’id untuk mengajar pada sebuah kuttab ketika Nabi Muhammad SAW berada di Madinah.

b. Mempersatukan berbagai potensi yang semula saling berserakan bahkan saling bermusuhan. Langkah ini dituangkan dalam dokumen yang lebih popular disebut piagam Madinah. Dengan adanya piagam tersebut terwujudlah keadaan masyarakat yang tenang, harmonis dan damai.

2.2.5 Penjelasan Periode Islam Klasik Fase Madinah dari Segi Ekonomi dan Sumber Keuangan Negara

Secara umum, tugas kekhalifahan manusia adalah tugas mewujudkan

kemakmuran dan kesejahteraan dalam hidup dan kehidupan ( al-An’aam : 165) serta tugas pengabdian atau ibadah dalam arti luas (adz-Dzaariyaat : 56). Untuk menunaikan tugas tersebut, Allah SWT memberi manusia dua anugerah nikmat utama, yaitu manhaj al-hayat (sistem kehidupan) dan wasilah al-hayat (sarana kehidupan).

Manhaj al-hayat adalah seluruh aturan kehidupan manusia yang bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah Rasul. Aturan tersebut berbentuk keharusan melakukan atau sebaiknya melakukan sesuatu, juga dalam bentuk larangan melakukan atau sebaiknya meninggalkan sesuatu. Aturan tersebut dikenal sebagai hukum lima ( al-ahkaam al-takliifiyaah ), yakni wajib, sunnah (mandub), mubah, makruh, atau haram.

Aturan-aturan tersebut dimaksudkan untuk menjamin keselamatan manusia

sepanjang hidupnya, baik yang menyangkut keselamatan agama, keselamatan diri

(jiwa dan raga), keselamatan akal, keselamatan harta benda, maupun keselamatan

nasab keturunan. Hal-hal tersebut merupakan kebutuhan pokok atau primer ( al-

haajat adh-dharuriyyah).

Pelaksanaan Islam sebagai way of live secara konsisten dalam semua

kegiatan kehidupan, akan melahirkan sebuah tatanan kehidupan yang baik, sebuah

tatanan yang disebut sebagai hayatan thayyibah (an-Nahl : 97). Sebaliknya, menolak aturan itu atau sama sekali tidak ingin mengaplikasikannya dalam kehidupan, akan melahirkan kekacauan dalam kehidupan sekarang, ma’isyatan dhanka atau kehidupan yang sempit, serta kecelakaan di akhirat nanti (Thaahaa : 124-126).

Aturan-aturan itu juga diperlukan untuk mengelola wasilah al-hayah atau segala sarana dan prasarana kehidupan yang diciptakan Allah SWT untuk kepentingan hidup manusia secara keseluruhan. Wasilah al-hayah ini dalam bentuk udara, air, tumbuh-tumbuhan, hewan ternak, dan harta benda lainnya yang berguna dalam kehidupan. sebagaimana firman Allah SWT :

“ Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu ”. (Al-Baqarah : 29)

Islam mempunyai pandangan yang jelas mengenai harta dan kegiatan

ekonominya sebagaimana telah dicontohkan oleh teladan kita Nabi Muhammad SAW.

Beberapa pemikiran ekonomi Islam yang disadur ilmuwan Barat antara lain, teori invisible hands yang berasal dari Nabi Muhammad SAW dan sangat populer di kalangan ulama. Teori ini berasal dari hadits Nabi Muhammad SAW. sebagaimana disampaikan oleh Anas RA, sehubungan dengan adanya kenaikan harga-harga barang di kota Madinah. Dalam hadits tersebut diriwayatkan sebagai berikut :

Harga melambung pada zaman Rasulullah SAW. Orang-orang ketika itu

mengajukan saran kepada Rasulullah dengan berkata: “Ya Rasulullah hendaklah

engkau menentukan harga”. Nabi Muhammad SAW bersabda: ”Sesungguhnya Allah-lah yang menentukan harga, yang menahan dan melapangkan dan memberi rezeki. Sangat aku harapkan bahwa kelak aku menemui Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntutku tentang kezaliman dalam darah maupun harta.”

Dengan hadits ini terlihat dengan jelas bahwa Islam jauh lebih dahulu (lebih

1160 tahun) mengajarkan konsep invisible hand atau mekanisme pasar dari pada Adam Smith. Inilah yang mendasari teori ekonomi Islam mengenai harga. Rasulullah SAW dalam hadits tersebut tidak menentukan harga. Ini menunjukkan bahwa ketentuan harga itu diserahkan kepada mekanisme pasar yang alamiah impersonal. Rasulullah menolak tawaran itu dan mengatakan bahwa harga di pasar tidak boleh ditetapkan, karena Allah-lah yang menentukannya. Sungguh menakjubkan, teori Nabi tentang harga dan pasar. Kekaguman ini dikarenakan, ucapan Nabi SAW itu mengandung pengertian bahwa harga pasar itu sesuai dengan kehendak Allah yang sunnatullah atau hukum supply and demand. Maka sekali lagi ditegaskan kembali bahwa teori inilah yang diadopsi oleh bapak ekonomi barat, Adam Smith dengan nama teori invisible hands. Menurut teori ini, pasar akan diatur oleh tangan-tangan tidak kelihatan (invisible hands). Bukankah teori invisible hands itu lebih tepat dikatakan God Hands (tangan-tangan Allah).

Di samping itu ada beberapa kebijakan ekonomi yang telah dijalankan oleh

Rasulullah SAW, antara lain :

1. Kebijakan Fiskal Rasulullah SAW

Ketika keadaan perekonomian masih lesu dan pemerintah baru saja

mendapat hutang baru dari Consultative Group on Indonesia (CGI) dan Dana Moneter Internasional (IMF), perlunya kebijakan fiskal yang tepat mengemuka di antara beberapa usulan kebijakan dari para ekonom.

Sebenarnya kebijakan fiskal telah sejak lama dikenal dalam teori ekonomi Islam, yaitu sejak zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, dan kemudian dikembangkan oleh para ulama.

Pada jaman Rasulullah SAW, sisi penerimaan APBN terdiri atas kharaj ( sejenis pajak tanah ), zakat, khums (pajak 1/5), jizya (sejenis pajak atas badan orang non muslim), dan penerimaan lain-lain (di antaranya kaffarah / denda). Di sisi pengeluaran, terdiri atas pengeluaran untuk kepentingan dakwah, pendidikan dan kebudayaan, iptek, hankam, kesejahteraan sosial, dan belanja pegawai.

Penerimaan zakat dan kums dihitung secara proporsional, yang dalam

persentase dan bukan ditentukan nilai nominalnya. Secara ekonomi makro, hal ini

akan menciptakan built-in stability. Ia akan menstabilkan harga dan menekan inflasi ketika permintaan agregat lebih besar daripada penawaran agregat. Dalam keadaan stagnasi, misalnya permintaan agregat turun menjadi lebih kecil daripada penawaran agregat, ia akan mendorong ke arah stabilitas pendapatan dan total produksi.

Sistem zakat perniagaan tidak akan mempengaruhi harga dan jumlah

penawaran karena zakat dihitung dari hasil usaha. Dalam istilah finansialnya

disebut tax on quasi rent. Ini berbeda dengan sistem pajak pertambahan nilai (PPN) yang populer sekarang; PPN dihitung atas harga barang, sehingga harga bertambah mahal dan jumlah yang ditawarkan lebih sedikit atau dalam istilah ekonominya up-ward shift on supply curve.

Khusus untuk zakat ternak, Islam menerapkan sistem yang progresif untuk

memberikan insentif meningkatkan produksi. Makin banyak ternak yang dimiliki

makin kecil rate zakat yang harus dibayar. Ia akan mendorong tercapainya skala produksi yang lebih besar dan terciptanya efisiensi biaya produksi. Sistem progresif ini hanya berlaku untuk zakat ternak karena bila terjadi kelebihan pasokan, ternak tidak akan busuk seperti sayur atau buah-buahan. Harga tidak akan jatuh karena kelebihan pasokan.

APBN jarang sekali mengalami defisit, yaitu pengeluaran hanya dapat

dilakukan bila ada penerimaan. Pernah sekali mengalami defisit, yaitu sebelum perang Hunain, namun segera dilunasi setelah perang. Bahkan di jaman Umar dan Utsman r.a., malah APBN mengalami surplus. Dengan tidak ada defisit berarti tidak ada uang baru dicetak dan ini berarti tidak akan terjadi inflasi yang disebabkan ekspansi moneter. Inflasi terjadi di jaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin akibat turunnya pasokan barang ketika musim paceklik atau ketika perang.

2. Kebijakan Moneter Rasulullah SAW

Sejak nilai tukar merosot terus, Bank Indonesia menerapkan kebijakan suku

bunga tinggi. Dari sisi kemampuan SBI menyedot rupiah, hasilnya mulai tampak.

Akan tetapi, besaran makro lainnya dan industri perbankan malah sebaliknya. The

Asian Banker Journal, Mei 1998, dalam editorialnya menampilkan perkiraan para

bankir bahwa tingkat kredit bermasalah di Indonesia tahun 1998 mencapai 20 %,

bahkan para analis memperkirakan 50-55 %.

Kebijakan moneter sebenarnya bukan hanya mengotak atik suku bunga. Bahkan sejak jaman Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin, kebijakan moneter dilaksanakan tanpa menggunakan instrumen bunga sama sekali.

Perekonomian Jazirah Arabia ketika itu adalah ekonomi dagang, bukan

ekonomi yang berbasis sumber daya alam; minyak bumi belum ditemukan dan sumber daya alam lainnya terbatas.

Perekonomian Arab di zaman Rasulullah SAW bukanlah ekonomi

terbelakang yang hanya mengenal barter, bahkan jauh dari gambaran seperti itu.

Valuta asing dari Persia dan Romawi dikenal oleh seluruh lapisan masyarakat Arab, bahkan menjadi alat bayar resmi : Dinar dan Dirham. Sistem devisa bebas diterapkan, tidak ada halangan sedikitpun untuk mengimpor dinar atau dirham.

Bila para pedagang mengekspor barang, berarti dinar/dirham diimpor.

Sebaliknya, bila mereka mengimpor barang, berarti dinar/dirham diekspor. Jadi, dapat dikatakan bahwa keseimbangan supply dan demand di pasar uang adalah derived market dari keseimbangan aggregate supply dan aggregate demand di pasar

barang dan jasa.

Nilai emas dan perak yang terkandung dalam dinar dan dirham sama

dengan nilai nominalnya, sehingga dapat dikatakan penawaran uang elastis

sempurna terhadap tingkat pendapatan. Tidak adanya larangan impor dinar/dirham

berarti penawaran uang elastis; kelebihan penawaran uang dapat diubah menjadi

perhiasan emas atau perak. Tidak terjadi kelebihan penawaran atau permintaan sehingga nilai uang stabil. Untuk menjaga kestabilan ini, beberapa hal berikut dilarang :

a. Permintaan yang tidak riil. Permintaan uang adalah hanya untuk keperluan transaksi dan berjaga-jaga.

b. Penimbunan mata uang (at-Taubah : 34-35) sebagaimana dilarangnya penimbunan barang.

c. Transaksi talaqqi rukban, yaitu mencegat penjual dari kampung di luar kota untuk mendapat keuntungan dari ketidaktahuan harga. Distorsi harga ini merupakan cikal bakal spekulasi.

d. Transaksi kali bi kali, yaitu bukan transaksi tidak tunai. Transaksi tunai diperbolehkan, namun transaksi future tanpa ada barangnya dilarang. Transaksi maya ini merupakan salah satu pintu riba.

e. Segala bentuk riba (al-Baqarah : 278).

Dalam mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus stabilitas, Islam tidak menggunakan instrumen bunga atau ekspansi moneter melalui pencetakan uang baru atau defisit anggaran. Yang dilakukan adalah mempercepat perputaran uang dan pembangunan infrastruktur sektor riil.

Faktor pendorong percepatan perputaran uang adalah kelebihan likuiditas tidak boleh ditimbun dan tidak boleh dipinjamkan dengan bunga, sedangkan faktor penariknya adalah dianjurkan qard (pinjaman kebajikan), sedekah, dan kerja sama bisnis berbentuk syirkah atau mudharabah. Jadi, kebijakan moneter Rasulullah SAW selalu terkait dengan sektor riil perekonomian. Hasilnya adalah pertumbuhan sekaligus stabilitas negara.

Bab 3

Penutup

3.1 Kesimpulan

Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad itu dapat dikatakan bahwa puncak peradaban islam disepanjang sejarahnya. Dan bahkan apabila anda seorang muslim, anda dapat menganggapnya sebagai peradaban tertinggi yang pernah ada di dunia ini dan itu dikenal dengan Periode Islam Klasik.

Pendidikan Islam yang dilakukan Nabi Muhammad di Makkah bertujuan untuk membina pribadi Muslim yang berjiwa kuat dan dipersiapkan menjadi masyarakat Islam, mubaligh dan pendidik yang baik.

Setelah hijrah ke madinah Nabi SAW membangun sebuah masyarakat yang baru di Madinah. Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar dengan ketentuan-ketentuan agama islam atas keridhaan Allah SWT.

Banyak hal yang dilakukan Nabi dalam rangka mempertahankan dan memperkuat kedudukan kota Madinah diantaranya adalah mengadakan perjanjian damai dengan berbagai kabilah di sekitar Madinah, mengadakan ekspedisi keluar kota. Nabi Muhammad SAW sebagai kepala pemerintahan mengatur siasat dan membentuk pasukan tentara.

Membangun masjid di Madinah. Masjid inilah yang selanjutnya digunakan sebagai pusat kegiatan pendidikan dan dakwah. Nabi Muhammad SAW juga memerintahkan beberapa sahabat seperti al Hakam Ibn Sa’id untuk mengajar.

Kebijakan moneter Rasulullah Saw selalu terkait dengan sektor riil perekonomian. Hasilnya adalah pertumbuhan sekaligus stabilitas negara.

Untuk menjaga kestabilan ini, beberapa hal berikut dilarang. Permintaan yang tidak riil. Penimbunan mata uang. Transaksi tidak tunai. Segala bentuk riba.

3.2 Saran

Kami selaku penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kesalahan atau sangat jauh dari hasil yang diharapkan, maka dari itu kami mohon saran dan masukan yang positif. Dengan demikian hasil yang terbaik selalu di harapkan.

Daftar Pustaka

Sejarah Arab Masa Nabi Muhammad SAW. 2009. http://spistai.blogspot.com/2009/03/sejarah-arab-masa-nabi-muhammad-saw.html. 23 September 2012.

Konsep Pendididikan Islam dimasa Rasulullah. 2012. http://makinmaju.wordpress.com/2012/05/11/konsep-pendidikan-islam-di-masa-rasulullah/. 23 September 2012.

Sejarah kehidupan dan Dakwah nabi Muhammad Periode Mekah. 2010. http://yandiyulio.wordpress.com/2010/12/15/sejarah-kehidupan-dan-dakwah-nabi-muhammad-periode-mekah/. 23 September 2012

By:
FAHED ELY’S YOHANA (12110013)
KHUSNIL MUBAROK (12110021)
NOVIA AYUNINGTYAS (12110027)

Iklan